STATUS GIZI BALITA BGM BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU DI WILAYAH KERJA KECAMATAN SAWAH BESAR TAHUN 2018
DOI:
https://doi.org/10.31000/jkft.v4i1.2022Abstract
Masalah tumbuh kembang balita di Bawah Garis Merah (BGM) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Hal ini perlu segera diatasi sebab balita tersebut merupakan sumber daya manusia yang akan menjadi aset utama dalam membangun bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita BGM. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu dan balita di Kecamatan Sawah Besar sedangkan sampel yang digunakan adalah balita BGM berjumlah 46 anak dengan teknik purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer meliputi usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan paritas yang diukur dengan wawancara berdasarkan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari Kartu Menuju Sehat (KMS), kohort dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai alat bantu pemantauan balita BGM. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Spearman dengan derajat kepercayaan 5% (0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara usia ibu (p value =0.016), pendidikan (p value =0.001) dan paritas (p value =0.048) terhadap status gizi balita BGM berdasarkan berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan(BB/TB).References
Badan Pusat Statistik. 2003. Indonesia Demographic and Health Survey 2002- 2003. Calverton, Maryland, USA: BPS and ORC Macro.
Benny A Kodyat. 1998. Penuntasan Masalah Gizi Kurang dalam Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI . Jakarta : LIPI
Kemenkes RI. 2018. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2018.pdf diakses pada tanggal 29 Agustus2019
Liu J, Raine A, Venables PH, Dalais C, Mednick. Malnutrition at age 3 years and lower cognitive ability at age 11 years. Independence from psychoosocial adversity.
Diunduh dari www.archpediatrics.com
Sri Mulyati. 1990. Penelitian Gizi dan Makanan. Puslitbang Bogor.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta : Depkes RI.
RodrÃguez L and Cervantes E. 2011. Malnutrition and gastrointestinal and respiratory infections in children: a public health problem. Available at Int Journal of Environ Res Public Health. 2011 Apr; 8 (4):1174-205.
Sjahmien Moehji. 1992. Pemeliharaan Gizi untuk Bayi dan Balita.Jakarta: Baratha Niaga Media.
Sjahmien Moehji. 2003. Ilmu Gizi 2 Penaggulangan Gizi Buruk. Jakarta: Papas SinarSinanti.
Sarni RO, Carvalho MF, Monte CM and Albuquerque ZP. 2009. Anthropo metric evaluation, risk factors for malnutrition, and nutritional therapy for children in teaching hospitals in Brazil. Available at Journal of Pediatrics (Rio J). 2009 May- Jun;85(3): 223-8.
Soetjiningsih. Penilaian pertumbuhan fisik anak. Dalam: IGN Gde Ranuh, penyunting.Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: UKK Tumbuh Kembang IDAI;1995.h. 37-54.
Uce, Loeziana. 2017. The golden age:Masa efektif merancang kualitas anak. Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak. diakses 30 Agst2019.
Unicef. 2002. Pedoman Hidup Sehat. Jakarta: Unicef
WHO Multicentre Growth Reference Study Group. WHO child growth standards based on length/height, weight dan age. Acta Paediatr 2006;450:76-85.